Fan Page

Pengikut

Ada kesalahan di dalam gadget ini

29/08/16




Detik-detik keberangkatan Diponegoro Mluccas Expedition (DME) di sambut hangat oleh Direktur Kemahasiswaan, Bapak Handoyo Joko dalam upacara pelepasan atlit DME di halaman Widya Puraya Universitas Diponegoro.

Upacara berlangsung di pagi hari yaitu pukul 08.00 – 08.45 pada tanggal 29 Agustus 2016 dengan peserta upacara anggota biasa, pengurus harian, dewan permusyawaratan WAPEALA UNDIP, 5 atlit Diponegoro Moluccas Expedition dan bapak Direktur Kemahasiswaan.

Lima atlit yang terpilih yaitu terdiri dari

1. Heharero Tesar Ashidiq (Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 2015)

2. Aan Dedhi Irawan (Teknik Elektro, Fakultas Teknik, 2015)

3. Nur Annisa (Matematika, Fakultas Sains dan Matematika 2015)

4. Ani Febriastati (Matematika, Fakultas Sains dan Matematika 2015)

5. Anisa Chairani Mutia Tegas (Perpajakan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis 2014)



Rangkaian upacara terdiri dari melantunkkan lagu Indonesia raya, hymne UNDIP dan Hymne WAPEALA UNDIP. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari ketua pelaksana Diponegoro Moluccas Expedition, Ketua Umum WAPEALA, Dewan Permusyawaratan WAPEALA dan Direktur Kemahasiswaan Universitas Diponegoro. Selanjutnya simbolisasi pelepasan atlit dengan pemakaian helm sebagai salah satu symbol caver yang di serahkan oleh baoak Direktur Kemahasiswaan di damping oleh ketua umum WAPEALA dan Dewan Pemusyawaratan WAPEALA. Akhir acara di tutup dengan Doa, Tos Wapeala dan Foto bersama.


 Simbolis pelepasan atlit diwakili oleh ketua tim atlit expedisi yaitu Heharero Tesar yang disematkan oleh Bapak Direktur Kemahasiswaan, Bapak Handoyo Joko.

 Foto bersama pak Direktur Kemahasiswaan


20/08/16

DIPONEGORO MOLUCCAS EXPEDITION

Posted by WAPEALA On 20.8.16 No comments



Jagat raya, bumi beserta seluruh isinya merupakan ciptaan dzat Tuhan Yang Maha Esa. Seluruh alam yang nampak dalam bumi ini merupakan sekecil nikmat yang di berikan Tuhan dalam memenuhi kebutuhan Khalifah yang ada dibumi. Kami selaku khalifah dan Mahasiswa Pecinta Alam sepantasnya untuk menjaga kearifan alam melalui penggalian wawasan, potensi dan kebutuhan alam terpenuhi sehingga kelestarian alam akan terus terjaga dari generasi ke generasi selanjutnya,

Melalui kegiatan-kegiatan, kami dituntut inovatif dalam penemuan-penemuan  yang terus akan mempermudah kehidupan kita semua. Menimbang hal diatas kami bermaksud untuk mengadakan sebuah kegiatan dengan nama kegiatan " DIPONEGORO MOLUCCAS EXPEDITION (DME)".

Diponegoro Moluccas Expedition merupakan kegiatan ekspedisi meliputi eksplorasi kawasan karst Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Utara kemudian akan dilakukan pendataan gua berupa pemetaan, biospeleologi yang kemudian akan dirujuk untuk diberdayakan sebagai kawasan pariwisata.

Tujuan dari kegiatan ini yaitu mengidentifikasi potensi wisata guna pengembangan wisata daerah setempat, mendapatkan data dan pengetahuan mengenai keanekargaman biota kawasan karst dan melakukan pemetaan gua yang nantinya sebagai tambahan data instansi terkait.

Harapan nantinya keluaran atau output dari kegiatan ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak.

Kegiatan DME akan dilakukan pada tanggal 01 - 23 September 2016 di Kawas Taman Nasional Manusela, Pulau Seram, Maluku Utara.

Info lebih lanjut
Maulana Yusup Saputra (Ketua Kegiatan Diponegoro Moluccas Expedition) : 085727780140
Ilyas Sudikno Yahya (Ketua Umum WAPEALA 2016) : 083842577181





Calon atlit Diponegoro Mollucas Expedition pada tanggal 11- 14 Juli melakukan kegiatan simulasi di daerah kawasan Karst Kendeng, Purwodadi. Dengan memberangkatkan 9 atlit yang di dampingi oleh 2 instruktur dan 3 official. Kegiatan yang dilakukan mulai dari pemetaan gua ( mapping ) , hidrologi, biospel, photography, rigging, dan mempelajari SOSEKBUD ( Sosial Ekonomi Budaya ) yang ada disekitar kawasan Karst Kendeng.

Caving adalah olah raga rekreasi menjelajahi gua. Tantangan dari olah raga ini tergantung dari gua yang dikunjungi, tapi seringkali termasuk negosiasi lubang, kelebaran, dan air. Pemanjatan atau perangkakan sering dilakukan dan tali juga diguanakan di banyak tempat. Caving kadangkala dilakukan hanya untuk kenikmatan melakukan aktivitas tersebut atau untuk latihan fisik, tetap awal penjelajahan, atau ilmu fisik dan biologi juga memegang peranan penting. Sistem gua yang belum dijelajahi terdiri dari beberapa daerah di Bumi dan banyak usaha dilakukan untuk mencari dan menjelajahi mereka. Di wilayah yang telah dijelajahi (seperti banyak negara dunia pertama), kebanyakan gua telah dijelajahi, dan menemukan gua baru seringkali memerlukan penggalian gua atau penyelaman gua

Peralatan dalam penelusuran gua sangat penting bagi keamanan penelusur itu sendiri, karena dengan peralatan itulah penelusuran dapat dilakukan dengan baik. peralatan itu adalah :

1. Lampu, syaratnya harus bisa ditempelkan pada helm. Helm, diusahakan yang tidak mudah pecah. Jika ternyata pecah tidak akan melukai kepala.

2. Coverall(Werkpak), dengan warna yang menyolok.

3. Sarung tangan, sebaiknya dari kulit yang lemas atau karet.

4. Sepatu, usahakan yang tinggi sehingga dapat melindungi dari gigitan binatang berbisa atau terkilirnya pergelangan kaki.

5. Sumber cahaya cadangan, bisa berupa lilin senter korek api.

6. Peluit, sebagai alat komunikasi darurat.

Perlengkapan tersebut hanya dapat dipergunakan untuk gua Horisontal (datar), atau gua yang agak rumit hingga memerlukan keterampilan untuk mendaki dan menuruni secara bebas tanpa peralatan (Free Climbing).

Untuk melakukan eksplorasi gua vertikal atau sumuran, tentunya peralatan tersebut diatas tidak memadai. Untuk keperluan tersebut dikenal suatu cara yang disebut SRT (Single Rope Technique) atau teknik menaiki dan menuruni tali tunggal, maka kita harus melengkapi dengan alat lainnya yaitu :

1. Sit Harnes (dada), tali pengaman dada.

2. Harnes duduk, tali pengaman/tambatan pinggang

3. Buntut sapi (Cow’s Tails) atau tali pengaman darurat.

4. Maillon Rapide (Delta), penyambung harnes dan tempat mengait alat.

5. Croll (Chest Jammer) alat menaiki tali.

6. Hand Jammer, alat menaiki tali.

7. Decender, alat untuk menuruni tali.

8. Tali prusik, 2 pasang.

9. Webbing, tali pita

Menelusuri gua dapat dikerjakan untuk olah raga maupun untuk tujuan ilmiah. Namun kedua kategori penelusur gua wajib menjunjung tinggi etika dan kewajiban
kegiatan penelusur gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur
gua ini agar lingkungan tidak rusak, agar para penelusur sadar akan bahaya-bahaya
kegiatan ini dan mampu mencegah terjadinya musibah dan agar si penelusur sadar
akan kewajibannya terhadap sesama penelusur dan masyarakat disekitar lokasi
gua-gua. Kemahiran teknik saja tidak cukup untuk menganggap dirinya mampu dan pantas melakukan kegiatan penelusuran gua. Seorang pemula atau yang sudah berpengalaman sekalipun harus memenuhi etika dan kewajiban penelusuran gua.

Sejak semula harus disadari bahwa seorang penelusur gua dapat merusak gua,
karena membawa kuman, jamur, dan virus asing ke dalam gua yang lingkungannya
masih murni, tidak tercemar. Penelusuran gua akan merusak gua apabila meninggalkan kotoran berupa sampah, sisa karbit, puntung rokok, sisa makanan, batu baterai mati, kantong plastik, botol/kaleng minuman dan makanan dalam gua. Membuang benda-benda tersebut di atas adalah larangan mutlak juga dilarang corat-coret gua dengan benda apapun juga.

Karenanya ikutilah Motto :

“jangan mengambil sesuatu……… kecuali mengambil potret”

“jangan meninggalkan sesuatu ….. kecuali meninggalkan jejak”

“jangan membunuh sesuatu ……… kecuali membunuh waktu”

Calon atlit sampai di tempat kawasan Karst Kendeng pukul 23.00 yang seharusnya dijadwalkan sampai pukul 21.00. Terjadi sedikit kendala dikarenakan tersesat. Sesampainya disana para calon atlit langsung melakukan checklist alat yang mereka bawa dan menyiapkan alat tersebut untuk kegiatan keesokan harinya.

Pada hari pertama, calon atlit menyusuri Gua Gajah dengan melakukan kegiatan pemetaan gua ( mapping ), dan biospel. Pemetaan gua merupakan hal yang penting karena dapat digunakan untuk menggambarkan bentuk, dan keadaan gua tersebut seperti apa. Biospel sendiri adalah suatu kegiatan mempelajari dan mengamati makhluk hidup apa saja yang ada di dalam gua terebut. Seperti contohnya yang di temukan di lapangan, calon atlit melihat Kalacemati atau Laba - laba. Kalacemati ini boleh dibilang monster di dalam gelap karena mereka sangat menyukai tempat-tempat yang gelap dan lembab. Mereka berburu dan aktif di malam hari. Ketika siang hari, mereka banyak bersembunyi di celah batuan. Kalacemati ini memiliki perbedaan dengan laba - laba pada umumnya, yang membedakannya Kalacemati memiliki sepasang cambuk yang sebenarnya merupakan modifikasi sepasang kaki terdepan. Kalacemati berjalan hanya menggunakan tiga pasang kaki. Sepasang kaki terdepan inilah yang berfungsi menjadi alat peraba karena memiliki rambut-rambut halus. Sayangnya calon atlit ini tidak dapat menyusuri gua secara keseluruhan karena terpaut oleh waktu. Pukul 15.00 para Atlit sudah selesai melakukan kegiatan dan beristirahat sejenak sebelum akhirnya benar - benar keluar dari dalam gua.

Setiap selesai melakukan kegiatan, hal yang dilakukan adalah evaluasi dan checklist alat. Adanya evaluasi usai kegiatan, untuk mengetahui kekurangan yang terjadi di lapangan tadi agar kedepanya tidak terjadi lagi. Selain itu checklist alat pun penting karena, untuk memastikan alat yang sudah di gunakan tadi masih lengkap jumlahnya dan tidak ada cacat atupun rusak. Setelah selesai calon atlit baru bisa beristirahat untuk mempersiapkan aktivitas di keesokan harinya

Pada hari kedua, mereka menyusuri gua yang berbeda yaitu Gua kembang. ua Kembang merupakan gua vertikal dengan kedalaman 30 meter dan diameter 4 meter. Gua ini berair dan berlumpur, sungai di Gua Kembang terhubung oleh Gua Urang. Gua yang memiliki dua lorong. Kegiatan yang dilakukan bertambah banyak dibandingkan dengan gua yang sebelumnya mulai dari photography, rigging, biospel, dan hidrologi. Kegiatan yang pertama mereka lakukan ialah rigging. Rigging adalah teknik pemasangan lintasan tali gua-gua vertical dengan syarat-syarat tertentu dengan tujuan menghindari gesekan antara tali dengan dinding gua. Ke sembilan calon atlit tersebut mempraktekan bagaimana rigging yang benar. Mungkin ini masih awal bagi calon atlit jadi memakan waktu yang cukup lama, dan mereka selesai melakukan rigging pukul 11.00. Masih ada waktu sekitar satu jam lagi menuju ISOMA (Istirahat, Shalat, Makan) calon atlit melakukan survey ke Gua Gapek untuk kegiatan mereka keesokan harinya. Selesai survey dan ISOMA, calon atlit melanjutkan kegiatan susur gua kembali. Pukul 13.00 selesai ISOMA calon atlit melakukan SRT ( Single Ropte Technique) untuk turun ke dasar gua, dan memulai kegiatan susur Gua Kembang. Gua Kembang yang terkenal dengan keadaan ornamen - ornamen yang ada di dalamnya masih terjaga, mungkin karena bentuk guanya yang vertikal jadi tidak sembarang orang bisa turun. Tidak ada tangan - tangan nakal yang merusaknya. Ornamen yang terdapat di dalam Gua Kembang seperti stalagtit, stalagmit, canopy, gourdam, helektit, dan calcit floor. Sifat dari ornamen gua yang mudah rusak seperti karang pada laut, apabila kita tidak sengaja ataupun sengaja menyentuh ornamen tersebut secara tidak langsung kita membunuh. Selain dengan keindahan ornamen yang ada, makhluk hidup yang tinggal di dalam gua tersebut juga beraneka ragam seperti : jangkrik gua, katak, ular, kepiting sungai, kalajengking, semut, dan serangga gua. Sayangnya lagi calon atlit tidak dapat menyusuri gua sampai keluar di Gua Urang. Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 dan calon atlit masih berada di antara gua,sedang perjalanan dari mulut Gua Kembang sampai Gua Urang membutuhkan waktu tiga jam. Akhirnya calon atlit memutuskan untuk keluar sebelum hari berubah menjadi gelap. Seperti biasa kegiatan rutin yang dilakukan checklist alat setelah melakukan kegiatan, dan evaluasi pada malam harinya.

Hari ketiga, calon atlit melakukan penyusuran ke gua yang ke tiga, yaitu Gua Gapek. Gua Gapek termasuk Gua vertical dengan kedalaman ±40m, berair dan berlumpur serta disekitar entrance (mulut gua) banyak ditumbuhi pohon jati dan bambu.Kegiatan yang dilakukan di Gua Gapek ini rigging dan mempelajari SOSEKBUD. Jadi sistemnya calon atlit di bagi kedalam dua tim. Tim pertama melakukan rigging lalu SOSEKBUD, sedangkan tim kedua melakukan SOSEKBUD lau rigging. Tim pertama melakukan rigging dahulu, dan melakukan SRT untuk turun tapi tidak mencapai dasar hanya setengah jalan lalu naik lagi. Sedangkan tim kedua melakukan wawancara kepada warga sekita mengenai gua tersebut dimanfaatkan untuk apa, apa warga yang ada disini tahu keberadaan gua ini, mata pencaharian yang dominan disana, dan pendidikan yang mereka pernah lalui. Dari hasil wawancara yang dilakukan Gua yang terdapat disan dijadikan mata pencaharian bagi warga sekitar, karena disana merupakan kawasan karst banyak warga sekitarnya merantau ke Kalimatan untuk mengembangkan hasil tambang mereka. Selain itu digunakan juga sebagai sumber pangan. Air yang berada di Gua Kembang masih jernih dan dapat dikonsumsi. Binatang seperti kelelawar pun tidak luput dari incaran warga sekitar. Soal pendidika yang ditempuh warga sekitar,apabila dia dapat sekolah ke jenjang yang tinggi biasanya jarang kembali ke kampung halamannya lagi. Setelah selesai kegiatan pertama kedua tim langsung bertukar posisi kegiatan. Kegiatan ini berakhir pukul 15.00. Setelah selesai kegiatan para altit, instruktur, dan official bersiap - siap untuk kembali ke Semarang. Mereka meninggalkan tempat pukul 18.00 dan tiba di Semarang pukul 21.00.



Menurut salah satu calon atlit, keadaan Gua yang ada di sana masih bagus dan terawat, dan oranamennya masih hidup, tetapi mungkin agak kurang di Gua Gajah karena ada tangan - tangan jahil yang menyentuhnya. Banyak sekali pembelajaran yang di dapat dari kegiatan ini, mulai dari hal yang sederhana sampai hal yang membutuhkan tenaga dan pikiran yang cukup besar. Alam yang indah ini sebaiknya kita jaga dan lestarikan demi berlangsungnya kehidupan dari setiap makhluk hidup.



(Heharero Tesar)

19/08/16




Ekowisata  Goa Kalisuci yang terletak di Jl. Wonosari, Jetisan Wetan, Pacarejo, Semanu, Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi buruan wisatawan yang meyukai adventure, nature, exotis dan Sensational.  Dari hal tersebut maka menimbang dari segi keamanan,  wisatawan umum yang berkunjung diwajibkan untuk didampigi oleh Guide dalam explore goa kalisuci.
Kalisuci merupakan nama salah satu goa yang berada di kawasan Karst Geopark Gunung Sewu, Gunung Kidul, DIY. Kalisuci merupakan goa yang memiliki sungai deras di bawah tanah. Hal ini menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke goa kalisuci. Struktur goa kalisuci terbentuk secara alamiah dari tetesan air yang mengandung kalsid secara terus  menerus sehingga memembentuk struktur ornament-ornamen dalam goa seperti flowstone, goardam, stalaktid, salakmid dan sebagainya.  Dalam pembentukan ornament goa membutuhkan waktu beribu-ribu tahun lamanya sehingga ornamen-ornamen yang terdapat di perut goa perlu di jaga keasriannya. Selain itu didalam perut goa beribu-ribu makhluk hidup yang hidup didalam goa yang menggantungkan hidupnya dengan memanfaatkan mikroorganisme, bahan organik serta  rantai makanan dalam hidupnya seperti kelelawar, kalacemati, ikan, udang dan lain sebagainya. Menimbang hal tersebut maka pengunjung yang memasuki perut goa diwajibkan dipandu oleh guide wisata goa kalisuci agar dalam kunjungannya tidak akan mengganggu dan merusak kehidupan di dalam perut goa dalam menunjang keasrian lingkungan. tentunya guide yang tergabung dalam wisata goa kiskendo perlu memiliki syarat khusus kemampuan skill dan wawasan yang baik mengenai kawasan kast dan ilmu speleology.
Dari pimpinan Goa Kiskendo menetapkan syarat utama  untuk menjadi Guide wajib memiliki sertifikasi minimal sertifikat yang dikeluarkan oleh HIKESPI. Hikespi adalah himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia yang merupakan anggota Union Internationale de speleology (IUS) dan organisasi yang bersifat profesi dam keilmuan yang terdaftar dalam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesai (LIPI), berafiliasi dengan Departement of Speleology Education International Union of Speleology.  Dengan pelatihan dan sertifikasi dari Hikespi menunjukan kualitas sumberdaya manusia dari Guide yang tidak akan diragukan demi keamanan dan kenyamanan wisatawan dan wisatawan yang mengunjungi goa kiskendo tidak menjadi parasit bagi kehidupan biospeleologi.







Waduk penelitian Universitas Diponegoro sebetulnya dapat dinikmati oleh semua orang. Saudara tahu bagaimana caranya? point utamanya tentu saja dengan menjadi tempat wisata air yang dikembangkan pengelolaannya dapat menarik masyarakat untuk mengunjungi Waduk Universitas Diponegoro.

Rancangan wisata air sangat beragam, namun yang tepat untuk lingkungan Waduk Penelittian Universitas Diponegoro adalah wisata air seperti sepedah air, banana boat, donat boat, serta kolam renang. Sepedah air, banana boat, donat boat menjadi rekomendasi bagi wisata air menimbang dari kedalaman waduk yang terbilang dalam, air yang masih terbilang baik dan diameter waduk yang cukup luas. Namun kekurangannya waduk penelitian univrsiitas diponegoro masih terlihat sampah-sampah yang mengapung di pesisir waduk yang diperleh dari kiriman sungai- sungai kecil dan bermuara di Waduk Penelitian Univesitas Diponegoro. Mengenai Kolam renang menjadi point rekomendasi karena

Menimbang waduk penelitian universitas diponegoro yang bertepatan dengan stadion olehraga Universitas Diponegoro sehingga menjadi salah satu fasilitas utama mahasiswa universitas diponegoro. Selain itu, air dari kolam renang waduk dapat memanfaatkan air waduk yang terbilang kualitas air yang baik. Bella Shabrina mengungkapkan dari hasil penelitian DAS Waduk penelitian Universitas Diponegoro dengan megambil sampel kali krengseng dan waduk dalam kegiatan Ekowalk for a better campus bahwa “Riset Daerah Aliran Sungai (DAS) Krengseng yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh yaitu pengecekan suhu kesadahan (suhu dalam air) dan oksigen terlarut pada 6 stasiun di Waduk Universitas Diponegoro, dapat disimpulkan bahwa suhu dan kesadahan perairan ini cukup baik karena sesuai dengan baku mutu perairan kelas III. Namun untuk nilai Oksigen Terlarut masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 9,4 mg/L sampai 11,5 mg/L. Kelebihan oksigen ini diperkirakan terjadi karena melimpahnya Fitoplankton pada perairan Waduk karena input sampah organik yang cukup banyak dari Desa Sekitar. Namun untuk memaksimalkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada perairan waduk. Secara garis besar perairan Waduk Pendidikan Diponegoro UNDIP masih tergolong cukup baik untuk mendukung kehidupan organisme aquatic”.


Dari adanya tempat wisata air di Waduk maka kebersihan lingkungan waduk akan lebih terjaga karena untuk menarik wisatawan tentuya kebersihan lingkungan menjadi sorotan utama dalam rekomendasi daftar tempat wisata. Selain kebersihan lingkungan , point yang dapat menarik wisatawan yaitu keasrian lingkungan waduk penelitian universitas diponegoro yaitu dengan menjadikan pesisir waduk yang dipenuhi tanaman dan pepohonan rindang yang menjadi lingkungan waduk bernuansa sejuk dan difasilitasi dengan rumput-rumput hijau sehingga wisatawan dapat menikmati keasrian lingkungan pesisir waduk penelitian universitas diponegoro.

16/04/16

Ecocare And Fun Walk For A Better Campus


           Semarang – Lebih kurang sekitar 300 orang memadati kawasan Waduk Universitas Diponegoro untuk mengikuti serangkaian kegiatan Eco-care And Fun Walk yang diselenggarakan oleh UKM Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) Universitas Diponegoro, Semarang Pada Tanggal 16 April 2016.

            Kegiatan Ecocare dan Fun Walk merupakan kegiatan yang disusun atas dasar peringatan Hari Ulang Tahun WAPEALA yang ke-40 Tahun. Dalam rangkaian acara tersebut meliputi kegiatan riset Daerah Aliran Sungai (DAS) Krengseng hingga Waduk Universitas Diponegoro, Jalan santai, penanaman bibit dan, penyebaran bibit benih.  Peserta kegiatan meliputi Undangan yang dihadiri oleh Pejabat Kampus Universitas Diponegoro, Anggota Luar Biasa (ALB) WAPEALA, Mahasiswa Pecinta Alam se-Semarang dan Peserta umum.

           Susunan kegiatan Ecocare dan Fun Walk diawali dengan dibukanya kegiatan tersebut oleh Prof. Dr. H. Yos Johan Utama., S.H., M. Hum. selaku Rektor Universitas Diponegoro dan Bapak Budi Setyono., S.Sos., M.Pol. Selaku Pembantu Rektor III (PR III) Universitas Diponegoro  bidang kemahasiswaan.

           Acara ke – 2 dilanjuti dengan penyebaran benih ikan tawes di Waduk Pendidikan Undip yang dilakukan secara simbolis dengan cara melepaskan benih ikan dari karamba oleh Bapak Rektor dan PR III. Acara yang ke 3 adalah Penanaman Pohon buah oleh Anggota Biasa WAPEALA dengan jenis bibit pohon berkayu seperti ketapang kencana, beringin, buah nangka dan buah mangga yang ditanam disekeliling Waduk UNDIP.

            
           Kegiatan selanjutnya yaitu Ecowalk atau jalan santai dalam rangka hidup sehat yang diselingi dengan memperhatikan ekologi sekitar jalan yang dilewati oleh peserta dalam jalan santai. jalur jalan santai dimulai pada titik selatan waduk undip dan mengelilingi Waduk Undip hingga berakhir kembali di titik selatan waduk undip. Jalan santai diawali dengan melakukan peregangan melalui media senam bersama. Tiupan suara terompet dari panitia yang mengawali perjalanan Ecowalk.


           Pasca kegiatan Jalan Santai Peserta dipersilahkan untuk beristirahat dan menikmati stand yang disediakan panitia diantaranya terdapat Stand Hasil Riset DAS Krengseng, Unit Kegiatan Mahasiswa Kesemat, Unit Kegiatan Mahasiswa Menembak, Komunitas Apel (pencinta reptil), dan Penyedia Alat Outdoor Endelwis.

           Pada Stand Riset ditampilkan kegiatan dan hasil riset dari team peneliti. “Riset Daerah Aliran Sungai (DAS) Krengseng yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh yaitu pengecekan suhu kesadahan (suhu dalam air) dan oksigen terlarut pada 6 stasiun di Waduk Universitas Diponegoro, dapat disimpulkan bahwa suhu dan kesadahan perairan ini cukup baik karena sesuai dengan baku mutu perairan kelas III. Namun untuk nilai Oksigen Terlarut masih cukup tinggi yaitu berkisar antara 9,4 mg/L sampai 11,5 mg/L. Kelebihan oksigen ini diperkirakan terjadi karena melimpahnya Fitoplankton pada perairan Waduk karena input sampah organik yang cukup banyak dari Desa Sekitar. Namun untuk memaksimalkan hal tersebut, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pada perairan waduk. Secara garis besar perairan Waduk Pendidikan Diponegoro UNDIP masih tergolong cukup baik untuk mendukung kehidupan organisme aquatik” Ujar Bella Shabrina selaku Ketua Peneliti DAS Krengseng.

           Penutupan acara dilakukan dengan pengumuman pemenang hasil perlombaan  fotobooth dan pembagian doorprize dari kegiatan Ecowalk yang di Spronsori oleh Anggota Luar Biasa WAPEALA Universitas Diponegoro, OTO kredit mobil dan motor , Samudra Indonesia, WASKITA, EDII dan Vitacimin. *(Aenun- Humas WAPEALA UNDIP).



02/04/16


WAPEALA UNDIP present:
"DIPONEGORO ECO CARE AND FUN WALK FOR A BETTER CAMPUS"
Apasih kegiatan nya?
kegiatannya ada:
- Jalan Sehat
- Tanam Pohon
- Sebar Benih Ikan
Kapan kegiatannya?
Sabtu,16 April 2016
06.00-10.00 WIB
Start:Stadion undip
Apa aja sih fasilitas yg didapat?
-DryFit T-Shirt
-Doorprize Coupon
-Drink & Snack
-Live Performance Music
-Stand Riset DAS Kali Babon
-Stand Bazar
Selain itu anda bisa dapatkan doorprize menarik:
- 2 Tiket Jakarta-Bali(PP)
- Outdoor Apparel
- T-Shirt
- dan masih banyak lagi senilai jutaan rupiah
Cara nya gimana?
Daftarkan diri anda dengan format pendaftaran:
NAMA_FAKULTAS/JURUSAN
CP: IRVAN 085274681620
FREEE..Kuota terbatas!

05/03/16

XXXII. NASALIS LARVATUS : BEKANTAN

Posted by WAPEALA On 5.3.16 No comments

1.      Wahyu Dwiyahya                                                    W- 679 Nasalis Larvatus

2.        Darsini Puji Lestari                                                 W- 680 Nasalis Larvatus 

3.        Muhammad Fahri                                                  W- 681 Nasalis Larvatus

4.        Heharero Tesar A.                                                  W- 682 Nasalis Larvatus

5.        David Pandu H.                                                       W- 683 Nasalis Larvatus

6.        Muhammad Tsaqif                                                 W- 684 Nasalis Larvatus

7.        Irvan Efendi                                                             W- 685 Nasalis Larvatus

8.        Ani Febriastati                                                         W- 686 Nasalis Larvatus

9.        Aswin Bahar S.                                                        W- 687 Nasalis Larvatus

10.      Isnawati                                                                   W- 688 Nasalis Larvatus

11.      Nur Anisa                                                                W- 689 Nasalis Larvatus

12.      Aan Dedhi Irawan                                                  W- 690 Nasalis Larvatus 

13.      I Made Rifaldy P. U.                                                W- 691 Nasalis Larvatus

14.      Nurmaida Putri                                                       W- 692 Nasalis Larvatus

15.      Trisna Fitriana                                                         W- 693 Nasalis Larvatus

16.       Farahdhilla Fairus A.                                             W- 694 Nasalis Larvatus

17.       Melisa Ramadani D.                                              W- 695 Nasalis Larvatus

18.       Prafani Viska N.                                                      W- 696 Nasalis Larvatus

19.       Hesta Galuh L.                                                        W- 697 Nasalis Larvatus

20.       Dewi Hartati                                                           W- 698 Nasalis Larvatus

21.       Bagus Apriana P.                                                    W- 699 Nasalis Larvatus

28/02/16

Pelestarian Lingkungan Desa Rahtawu

Posted by WAPEALA On 28.2.16 1 comment

Antusias Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) Universitas Diponegoro dalam pengabdian masyarakat di Desa Rahtawu, Kabupaten Kudus terlihat dari kerjasama antara Anggota dan Masa Bakti WAPEALA dengan masyarakat Desa Rahtawu dalam kegiatan penanaman pohon dan bersih sungai yang bertepatan pada hari Minggu tanggal 28 Februari 2016.
 

“Pengabdian Masyarakat dilakukan semata-mata untuk mengajak masyarakat dalam menjaga kelestarian alam melalui penghijauan beserta kebersihan dilingkungan sekitar kita”. Ujar Dewi Kurniasih (W-663 Pm) selaku ketua Pelaksana Kegiatan Pengabdian Masyarakat.
Seratus benih pohon jenis sengon laut (Paraserianthes falcataria) ditanam dipinggir sungai desa yang terletak pertengahan lingkungan perumahan, harapannya pohon tersebut dapat terrawat dan tumbuh sesuai dengan karakteristik unggul pohon tersebut. Pasca penanaman pohon dilanjut dengan pembersihan lingkungan melalui pemungutan sampah-sampah di sungai depan Kantor Balai Desa Rahtawu.
 
Bapak Sugiyono selaku Ketua Desa Rahtawu mengungkapkan bahwa masih kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pembuangan sampah pada tempatnya yang tercermin dari kebiasaan yang turun temurun membuang sampah di sungai sehingga banyak dijumpai sampah rumah tangga didalam aliran sungai tersebut.
Dari kegiatan bersih sampah ini merupakan metode yang diambil oleh Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA) untuk mengajak masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan penghijauan alam tentunya dengan ikut serta partisipasi masyarakat dalam pugut sampah dan penanaman pohon ini. (*HUMAS/WAPEALAUNDIP) 

24/02/16




Reorganisasi Unit Kegiatan Mahasiswa, Mahasiswa Pecinta Alam (WAPEALA), Universitas Diponegoro, Semarang dikukuh melalui Upacara Serah Terima Jabatan Pengurus Harian (PH)  WAPEALA UNDIP Periode 2016 di Lapangan Tembak Barak Patriot, Kodam IV Doponegoro, Semarang pada tanggal 13 Februari 2016 dan Upacara Pelantikan Bersama Organisasi Mahasiswa Universitas Diponegoro dengan Surat Keputusan No 71/UN7.P/HK/2016 dilaksanakan di Gedung Prof. Soedarto, Universitas Diponegoro, Semarang pada tanggal 24 Februari 2016.
 
Upacara serah terima jabatan Pengurus Harian WAPEALA priode 2016 dan Pelantikan bersama Organisasi Mahasiswa UNDIP dikukuhkan oleh  Bapak Budi Setyono selaku PR III bidang kesiswaan dengan penyerahan tanggung jawab kepada Ketua Umum WAPEALA UNDIP periode 2016, Ilyas Sudikno Yahya (Fakultas Psikologi 2013) disusul dengan Pengurus Harian lainnya. Dalam upacara serah terima jabatan pengurus harian priode 2016 dihadiri  oleh Pembina WAPEALA, Mas Wahyu Hidayat dan 40 peserta upacara sertijab. 


 
Bapak Budi Setyono dalam sambutan-nya mengungkapkan bahwa harapannya mahasiswa mampu membantu program universitas dalam meningkatkan grade universitas diponegoro di taraf internasional melalui kompetisi, riset dan pengelolaan pelestarian lingkungan, tata ruang menuju universitas hijau dan pengelolaa sistem kunjungan masyarakat umum dalam edukasi kampus universitas diponegoro.

Struktur Pengurus Harian WAPEALA Universitas Diponegoro Periode 2016 dijabat oleh:
Ketua Umum : Ilyas Sudikno Y.   Fakultas Psikologi, Psikologi 2013
Sekertaris       : Dewi Kurniasih    Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kesehatan Masyarakat 2013
Bendahara      : Anisa Chairani     Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Perpajakan 2014
Badan             : Ulul Karima         Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan 2013
Penerimaan
Anggota
Pendidikan     : Maulana Yusuf   
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Ilmu Pemerintahan 2012
dan Latihan
Humas dan     : Nurul Aenunnisa Fakultas Peternakan dan Pertanian, Agribisnis 2013
Lingkungan

Ekspedisi        : Dwi Jayanti        Fakultas Sains dan Matematika, Matematika 2014
Logistik dan   : Edy Purwanto     Fakultas Teknik, Perkapalan 2013
SAR
Riset dan        : Bella Shabrina    Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Oceanografi 2013
Kesejahteraan
Anggota
Dana Usaha    : Alfian Prakoso   Fakultas Teknik, Perkapalan 2014

Site search