Fan Page

Pengikut

26/08/14

Wapeala Universitas Diponegoro akan mengadakan lomba Mengambar & Mewarnai yang akan diselenggarakan pada tanggal 30 Agustus 2014. pendaftaran sudah dapat dilakukan melalui online dengan download formulir dibawah ini:
download[4]
Pendaftaran akan ditutup tanggal 28 Agustus 2014. Untuk informasi lebih lanjut dapat klik http://greeneration2014.blogspot.com/p/blog-page_3.html atau hubungi 089601896462 (Alin) atau 08985026611 (Wisnu)

06/06/14

Live Better by Saving River

Posted by WAPEALA On 6.6.14 No comments
Sebagai peringatan Hari Lingkungan Hidup yang jatuh pada tanggal 5 Juni tiap tahunnya, Wapeala Undip mengadakan aksi Pembersihan Sungai yang memasuki kawasan Undip pada hari Jumat, 6 Juni 2014. Belasan kantung besar sampah berhasil dikumpulkan anggota Wapeala. Ternyata, bukan hanya sampah plastik yang mendominasi kotornya sungai di Undip ini, tetapi juga sampah rumah tangga hingga menyebabkan bau yang tidak sedap. Semakin hari tumpukan sampah di sungai semakin banyak, seolah sungai adalah tempat sampah raksasa. Kurangnya kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai, tidak akan membebaskan sungai dari pencemaran. Diharapkan kegiatan ini sedikit dapat mengurangi pencemaran sungai dan lingkungan.
 
 
 


05/06/14

Hari Lingkungan Hidup 2014

Posted by WAPEALA On 5.6.14 No comments

26/05/14





  1. Anggraini Miftakhul Rizqy                W-652 Pavo muticus
  2. Wisnu Bekti Nugraha                      W-653 Pavo muticus
  3. M. Fadhlin Gumilar                         W-654 Pavo muticus
  4. Ilyas Sudikno Yahya                       W-655 Pavo muticus
  5. Meinoval Sani Y.                            W-656 Pavo muticus
  6. Nurul Aenunisa                               W-657 Pavo muticus
  7. Yan David Bonitua S.                     W-658 Pavo muticus
  8. M. Quraish Shihab G.N.                 W-659 Pavo muticus
  9. Gresi Amarita Rahma                      W-660 Pavo muticus
  10. Angkasa Rahmat Surya                   W-661 Pavo muticus
  11. Bella Sabrina                                  W-662 Pavo muticus
  12. Dewi Kurniasih                               W-663 Pavo muticus
  13. Maya Nurmaya                              W-664 Pavo muticus
  14. Hawari Rosdiana                            W-665 Pavo muticus
  15. Edi Purwanto                                  W-666 Pavo muticus
  16. Yoshua Aristides Salomo S.            W-667 Pavo muticus
  17. Eka Mulya                                      W-668 Pavo muticus
  18. Abdul Kharis                                  W-669 Pavo muticus
  19. Afgananda                                      W-670 Pavo muticus

21/04/14



PRESS RELEASE KRONOLOGIS MUSIBAH YANG MENIMPA TIM EKSPEDISI “APSARA ADHIDARWA”. MAHASISWA PENCINTA ALAM (WAPEALA) UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG- JAWA TENGAH DI SUNGAI CIKANDANG, GARUT JAWA BARAT

WAPEALA UNDIP adalah organisasi pencinta alam tingkat universitas. Di mana garis komando setiap kegiatan eksternal maupun internal di bawah naungan Pembantu Rektor III. WAPEALA berkecimpung di dunia kepetualangan dan kepencintaalaman sejak tahun 1976.
Tim pengarungan berjumlah 10 orang dari WAPEALA UNDIP yaitu Wisnu Bekti,Nurul Aenunisa, Alm. Anggraini Miftakhul Rizki, Angkasa, Gresi Amarita, Dian Syafitri, Firas Dalil, Septian Dwi, Ahsani Taqwim,Faran Afnan dan satu orang dari MAPALA STTG (SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT) yaitu Kang Ipe sebagai tenaga bantuan operasional.
Apsara Adhidharwa
Meluncur di atas air. Adalah kegiatan ekspedisi pengembaraan bagi calon anggota WAPEALA. Di mana pada setiap kegiatan ekspedisi kami selalu menekankan proses. Pra kegiatan ekspedisi Cikandang didahului dengan latihan rutin arus tenang di sungai Banjirkanal, simulasi di sungai Elo 2 periode, Sungai Serayu. Tak hanya teknik pengarungan, tim juga dibekali kemampuan self rescue dan manajerial ekspedisi. 

Perizinan Kegiatan
Pada setiap kegiatan Ekspedisi mulai dari pra dan pasca, perizinan adalah hal yang selalu diutamakan. Garis koordinasi berasal dari KETUA WAPEALA- PEMBINA ORGANISASI- PEMBANTU REKTOR III (Bid. Kemahasiswaan). Dengan 3 tanda tangan perizinan dari universitas, tim baru bisa bergerak untuk melaksanakan kegiatan ekspedisi. Begitu halnya dengan Ekspedisi “Apsara Adhidharwa”, yang telah melakukan survey perizinan terlebih dahulu sebelumnya. Setelah melaksanakan latihan dan simulasi, surat rekomendasi pengarungan dari FEDERASI ARUNG JERAM INDONESIA (FAJI) didapatkan. Surat tersebut merupakan bekal bagi tim untuk mendapat izin dari Camat Pakenjeng, KORAMIL Pakenjeng, Kapolsek Pakenjeng. Ketiganya adalah institusi yang menaungi perizinan kegiatan wilayah  sungai Cikandang. Perijinanpun telah terpenuhi seluruhnya sebelum Tim melakukan pengarungan. Jadi dapat kami tegaskan bahwa kegiatan arung jeram “Apsara Adhidharwa” WAPEALA RESMI MENDAPAT SURAT JALAN SEBAGAI PERIZINAN KEGIATAN dari FAJI (FEDERASI ARUNG JERAM INDONESIA).

Kronologis Kejadian
Tim melakukan pengarungan hari pertama pada tanggal 14 April 2014 pada pukul 10.00 pagi dengan dibagi menjadi 2 perahu (merah & kuning). Menggunakan teknik pengarungan River Running System atau pengarungan dengan sesuai standar yaitu 2 perahu. Perahu (kuning) paling depan sebagai tim pembuka jalur (lead boat), diikuti perahu (merah) di belakang dengan asumsi jika perahu depan mengalami masalah, perahu (merah) menyelamatkan. Saat memulai pengarungan kondisi cuaca kondusif (cerah). Pengarungan berlangsung lancar dan terkendali sampai pada pukul 12.00 WIB. Tim istirahat sampai pukul 13.00 WIB. Melihat debit sungai dirasa masih aman, tim kembali melanjutkan pengarungan sambil mencari lokasi camp terdekat. Tim terus mencari lokasi camp yang aman karena daerah yang dilalui masih berupa tebing dan persawahan. Pukul 14.00 WIB lebih langit di hulu gelap, tim segera berpacu dengan waktu untuk segera mencari tempat camp yang layak. Perahu depan (kuning) sempat mengalami terjebak 2 kali di bebatuan namun berhasil lolos. Pada kondisi yang terjebak yang ke-3 kali, perahu depan (kuning) sempat mengalami kesulitan untuk lolos. Banjir bandang tiba-tiba datang dan tim di masing-masing perahu mulai terhempas dan terpisah dari tempat semula. Setelah renang jeram, beberapa anggota tim berhasil menepi ke pinggir sungai dan delta. Pada kondisi ini almarhumah sempat terlihat menepi dan memegang pohon, namun menurut saksi Dian, ia terhempas kembali dan hanyut lagi dan ditemukan sore harinya pada pukul 4 sore dalam keadaan telah tiada.
Beberapa anggota tim keesokan harinya dilarikan warga ke PUSKESMAS untuk mendapat pelayanan gawat darurat. Setelah terpisah beberapa jam, pada hari selasa pagi seluruh tim dipertemukan di basecamp STTG. Jenazah almarhumah Mifta langsung dibawa ke Bekasi pada jam 08.30 untuk dikebumikan.

Seperti yang telah kami jelaskan, kejadian ini murni BENCANA yang di luar prediksi analisa kami. Menurut warga kejadian banjir bandang ini merupakan yang terbesar hingga menenggelamkan persawahan dan merobohkan jembatan yang baru dibangun. 

Demikian kronologis singkat musibah banjir bandang yang menimpa tim arung jeram WAPEALA Undip. Demikian press release ini diterbitkan untuk meluruskan berita yang selama ini masih bersifat  simpang siur. Semoga berita musibah semacam ini tidak lagi menjadi sasaran empuk pencari berita yang mengedepankan kecepatan daripada ketepatan berita. Semoga profesionalisme jurnalis, aktualitas dan faktualitas berita tetap menjaga etika media massa. Sehingga tidak ada lagi pihak-pihak yang merasa dirugikan. Karena kehilangan saudara tercinta kami Anggraini Miftakhul Rizki  merupakan pukulan berat kami keluarga besar WAPEALA UNDIP.
Turut berbela sungkawa dan mohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga Almarhumah. Juga kami ucapkan rasa terimakasih kepada warga desa daerah aliran sungai Cikandang dan seluruh potensi SAR baik saudara mapala maupun  institusi yang telah banyak membantu. Semoga amal ibadah almarhumah diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amien

Semarang, 18 April 2014

Ketua Umum WAPEALA UNDIP,
Irwan Hidayatullah

24/12/13

Biota Berbahaya Bagi Penyelam

Posted by WAPEALA On 24.12.13 No comments
Tanggal 19-22 Desember 2013, Wapeala Undip baru saja menyelesaikan BTKK Divisi Diving yang merupakan rangkain oprec bagi Calon Masa Bakti Wapeala Lapis XXX. Masih berbicara tentang selam, kali ini Wapeala akan share mengenai biota laut yang membahayakan penyelam.
  1. Yang menggigit/menyerang
    • Ikan Hiu. adalah salah satu jenis binatang berdarah dingin. Jenis ikan ini sangatlah ditakuti. Akan tetapi ikan jenis ini jarang menyerang dibandingkan dengan kepopuleran dari menyelam itu sendiri. Ikan ini sangat peka terhadap bau darah, ia akan segera menyerang sumber darah segera setelah ia menendeksinya.
    • Ikan Barakuda. Ikan jenis ini sebenarnya tidak begitu berbahaya, akan tetapi ia mempunyai komposisi / susunan gigi yang sangat kuat, maka korban dari gigitan ikan ini akan menimbulkan akibat yang cukup serius sampai-sampai dapat menimbulkan kematian.

    • Moray. ikan ini bentuknya seperti belut / ular, panjang dan mempunyai komposisi gigi yang kuat. Binatang ini sebenarnya takut kepada manusia, ia akan menghindar jika melihat penyelam yang mendekat kepadanya. Ia akan menyerang sebagai pembelaan diri jika secara tiba-tiba ia dikagetkan. Biasanya binatang ini tinggal dilobang-lobang pada celah-celah karang. Luka yang diakibatkan oleh gigitan binatang ini cukup parah. Pemakaian wet suit sangatlah membantu mengurangi bahaya dari gigitan binatang ini.
  2. Yang Berbisa/Menyengat
    • Sea Waps. Nama sebenarnya adalah “Chironex Fleckeri” dan merupakan jenis ubur-ubur yang paling berbahaya. Sungutnya yang hampir tak terlihat di dalam air, bila bersentuhan dengan kulit korban akan mengluarkan sengatan yang amat berbisa. Rasa sakit yang hebat akan terasa, dan kematian akan terjadi beberapa menit akibat sengatan bisa tersebut. Jika terkena sengatan binatang ini, maka bilaslah menggunakan spiritus atau cairan yang mengandung alcohol seperti viksi. Cungkil sungut / duri pada kulit dengan pisau atau kayu, atau keringkan duri tersebut dengan garam, bedak, debu, dll.
    • Portugese Man of War. Jenis ini sangat berbahaya. Tanda-tanda dari binatang ini adalah terdapat pungan (float) yang berisi gas yang berwarna jingga kebiru-biruan serta diatasnya terdapat semacam jambul menyerupai layar. Binatang ini adalah jenis pengapung dan hanyut mengikuti arus air dan arah angin berhembus. Walaupun menyerupai ubur-ubur, namun ia adalah kelompok binatang yang dinmakan Hydroid.
    • Blue Ringed Octopus. ikan kecil yang indah ini terdapat pada celah-celah karang di tepi pantai. Jika diganggu ia akan mengeluarkan cincin berwarna kebiruan pada permukaannya. Keindahannya inilah yang sering menimbulkan korban, terutama pada anak-anak. Luka gigitannya diasanya kecil dan tidak sakit dan sering diabaikan oleh korban hingga terjadinya gejala yang serius. Bisa yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan kelumpuhan yang sangat hebat dalam beberapa menit, yang dapat mengakibatkan terhentinya pernafasan. Kesadaran biasanya tidak terganggu, akan tetapi korban tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya karena kelumpuhan. 
    • Ular Laut, Jenis ular laut ini jumlahnya mencapai 50 jenis dan diasanya dapat mencapai 2-10 kali dari bisa ular kobra. Walaupun sangat berbisa, ular laut ini beristirahat di bawah karang, dan pada malam hari ia melakukan perburuan. 
    • Stone Fish (Ikan Batu). Ikan ini dapt tumbuh hingga mencapai 30 cm an hidup di air yang dangkal, di daerah berkarang dan sangatlah sukar dikenali karena bentuknya yang sama dengan sekelilingnya. Binatang ini menyuntikkan bisanya melalui tulang belakangnya yang keras hingga menembus kulit korban. Gejala umumnya berupa nyeri setempat yang hebat dengan adanya peradangan pada jaringan yang berdekatan dan kaddang-kadang bisa terjadi gejala yang lebih hebat berupa shock gangguan pernafasan, koma hingga kematian. 
    • Bulu Babi, Jenis ini mempunyai duri yang sangat banyak, panjangnya dapat mencaoai 25 cm dan tajam. Bulu babi biasanya sering menimbulkan bencana pada seorang penyelam. Penyelam tanpa sengaja menginjaknya atau membenturnya. Bulu babi banyak terdapat pada gugusan karang, dicelah-celah karang dan di daerah bebatuan. Umumnya jenis bulu babi yang terdapat di pantai-pantai mempunyai “duri” yang sangat mudah patah dan membenan dalam kulit. 
    • Ikan Pari. jenis ini suka membenamkan dirinya di pasir. Jika seseorang sedang menjelajahi daerah yang berpasir, mungkin akan menemui seekor ikan pari. Binatang ini mempunyai semacam duri yang bergigi dekat dengan ekornya menyerupai cambuk. 
    • Karang Api, Sesuai dengan namanya maka seorang penyelam yang menyentuh karang api akan merasakan panas seperti terkena api. Karang api ini berwarna kuning hijau dan merah kecoklatan, biasanya penyelam secara tidak sadar menyentuhnya. Luka akibat terkena karang api itu akan sembuh berkisar antara 2-3 minggu dan akan menimbulkan bekas. 
    • Stinging Hydroid, Hydroid itu berwarna cokelat kehijauan atau berwarna ungu atau putih. Umumnya tumbuh di karang yang berair hangat. Akibat yang ditimbulkan oleh sengatan hydroid ini bervariasi dari rasa gatal hingga rasa sakit yang berat. Beberapa penyelam merasa lebih takut pada hydroid ini daripada Sea Wasp. Jika terkena sengatannya maka sebagai pertolongan pertama dapat diberikan alcohol di bagian yang terkena sengatan.
tulisan ini beracuan pada Buku Petunjuk Pengetahuan Akadamis Penyelaman Jenjang 1 Star Scuba Diver (A1) POSSI-CMAS Indonesia  

 

19/09/13

Kami Raja Tebing Sumbing Gunung Kelud

Posted by WAPEALA On 19.9.13 1 comment


Tanggal 7 September 2013, Mahasiswa Pecinta Alam (Wapeala) Universitas Diponegoro melaksanakan Dikjut (Pendidikan Lanjutan) yaitu “Ekspedisi Pancawarna of Java”. Tim Rock Climbing yang terdiri dari Moh Faran Afnan W 642 GRR (Perikanan), Dwi Kusmawardani W 645 GRR (Fisip), dan Tri Kuncoro W 637 TT (Tekhnik Perkapalan) melaksanakan panjat tebing dan pendataan di Tebing Sumbing Gunung Kelud Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Tebing Sumbing memiliki ketinggian kurang lebih 200 meter.
Tebing Sumbing Gunung Kelud

Hari pertama, Sabtu pukul 01.00 WIB dini hari tim RC berangkat dari stasiun poncol ke stasiun wlingi, Kota Kediri. Selanjutnya dari stasiun wlingi dijemput oleh Anggota Luar Biasa atau ALB yang merupakan anggota wapeala yang telah lulus dari Undip. Kemudian kita beristirahat disana sambil mengurus  surat perijinan. Hari kedua, minggu pagi pukul 07.00 WIB tim RC berangkat menuju Tebing Sumbing. Siang hari tibalah di tebing yang kemudian berlanjut untuk memanjat tebing sampai di teras pertama atau pitch 1. Kami bermalam di atas tebing (hanging bivak). Pemandangan malam hari di atas tebing sangat indah, lampu lampu dari tempat wisata menuju gardu pandang pun semarak terlihat. Angin yang sepoi menambah suasana malam itu menjadi semakin syahdu, menenangkan kami sebelum bertempur keesokan harinya. Hari ketiga tim RC melanjutkan pemanjatan dari pitch 1 ke top. Walaupun panas, dengan semangat tim rc memanjat tebing sumbing. Pukul 15.00 WIB tim RC sampai di top tebing sumbing.
Pemanjatan ke pitch 1
Tim RC berada di TOP Tebing Sumbing
Pemandangan dari puncak tebing terlihat sangat indah. Disana tampak anak Gunung Kelud. Burung elang jawa yang beterbangan diatas langit Tebing Sumbing seakan memberikan ucapan selamat datang kepada kami. Tidak lama berada di puncak tebing, tim RC melanjutkan aksinya dengan menuruni tebing curam itu. Turun tebing atau yang sering disebut dengan Rapling ini membutuhkan peralatan keselamatan yang cukup.
Saat Rapling
Selain itu, butuh koordinasi kaki dan tangan yang baik untuk menjaga keseimbagan badan. Saat itu, kami masih berada dalam kondisi kesehatan yang cukup fit meski setengahnya sudah terkuras pada saat memanjat tebing. Kami terpaksa bermalam di pitch 1 lagi karena ternyata hari sudah larut malam. Hari keempat paginya barulah kami memutuskan untuk turun tebing. Selanjutnya kami mempersiapkan peralatan packing dan kembali untuk melanjutkan pendataan di sekitar tebing. Kami mewawancarai beberapa tokoh penting di sekitar tebing, seperti penjaga tebing sumbing dan salah seorang pengelola. Setelah mendapatkan beberapa data, kami pulang menuju Wlingi untuk beristirahat. Hari kelima dari Stasiun Wlingi menuju Kediri untuk melakukan pendataan lagi ke dinas pariwisata Kediri. Setelah menuju dinas pariwisata kami melanjutkan untuk kembali ke Semarang.  Sesampainya di Semarag, tempat pertama yang kami tuju adalah sekretariat Wapeala. Pukul  23.00 WIB tim RC sampai di PKM Joglo Undip Pleburan, Jl. Imam Bardjo, SH No. 2 Semarang. Lima hari yang penuh peluh, namun menggugah semangat untuk selalu bersahabat dengan alam. Sang Pencipta sepertinya sudah menjadikan kami dengan alam ini berjodoh selamanya. Dari tebing ke tebing kami mencoba menyalami, hingga tebing terjal yang mengokohkan puncak sumbing ini pun telah mampu kami lalui. Dan semakin terjal tebing yang ada dihadapan nanti, akan semakin kuat pula karakter kami terbentuk, semakin memuncak semangat kami lanjutkan.
Anak Gunung Kelud (Kubah Lava)

03/09/13

Dalam rangka pelaksanaan Dikjut (Pendidikan Lanjut) lapis XXIX, 4 anggota Divisi Gunung Hutan Wapeala (Mahasiswa Pecinta Alam) Undip yaitu Yanuar Yoga Anggoro (W-647 Grr), Dini Dewi Purnama Sari (W-648 Grr), Moh. Doni Akbar (W-632 Tt) dan Syarifudin Ahmad (W-634 Tt), mengadakan pendakian di 2 gunung di bagian timur pulau Jawa pada tanggal 26 Agustus- 1 September 2013. Pendakian pertama yang diiringi plot jalur dan memiliki target puncak, dilakukan di Gunung Raung, Bondowoso. Sedangkan gunung kedua yang menjadi tujuan mereka adalah Gunung Ijen yang letaknya tak jauh dari Gunung raung. Pendakian di Ijen sendiri lebih ditargetkan pada pendokumentasian penambang belerang dan kawah Ijen. Karena memang Gunung di perbatasan Bondowoso-Banyuwangi ini terkenal akan hasil belerang dan keindahan kawahnya.
Pendakian gunung Raung dilakukan melalui jalur Sumber Wringin. Dengan semangat yang tak pernah padam, keempatnya meniti pos demi pos sepanjang jalur pendakian. Kondisi Gunung Raung yang hampir tak dapat ditemukan sumber air, sama sekali tidak menghalangi mereka untuk tinggal sementara di dalamnya demi menggapai puncak untuk menyejukan mata dengan menikmati indahnya kaldera.
Pendakian hari pertama dimulai dari pondok motor dan mengantarkan mereka pada sebuah dataran sempit sebelum pondok demit dan mereka pun bermalam di sana. Dinginnya malam terbayar oleh gemerlapnya hamparan bintang di langit hitam yang seakan menyambut pendaki yang tak sungkan menyambangi gunung dengan 2 puncak ini. Pada pendakian di hari berikutnya,mereka melalui pondok Sumur,Tonyok, Demit, Mayit dan Angin. Hingga akhirnya memewati batas vegetasi yang menyuguhkan medan berbatu nan terjal yang harus ditempuh dengan hati-hati. Bukan pendaki sejati rasanya jika tidak dapat melalui medan ini. Begitupun bagi Yoga, Dini, Doni dan Syarif, keempatnya tiba di puncak dan menerima suguhan terindah Gunung Raung berupa kaldera yang luas dan terletak jauh di dalam sana.
Berbeda halnya dengan Gunung Raung, pendakian di Gunung Ijen memiliki cerita tersendiri. Tidak seperti pendakian biasa, mereka melewati jalur pendakian Ijen bersama Bapak Agus, salah satu penambang belerang yang konon kerap muncul di televisi dan terkenal di kalangan wisatawan mancanegara. Bapak berumur 60-an ini begitu baik hati dan ramah dalam menemani mereka menelusuri  jalanan yang menanjak hingga turun menuju tempat penambangan belerang yang diselimuti asap belarang yang cukup menyesakan. Beliau pun dengan senang hati bercengkarama dengan keempat pecinta alam tersebut di kediamannya di pos penginapan penambang belerang.
Sekitar pukul 02.00 dini hari, mereka mendatangi Pak Agus di pos penginapan lalu berjalan beriringan dengannya menuju tempat penambangan. Mereka terkesan dengan bapak bercucu  5 ini yang tak pernah menyerah. Setiap hari memanggul belerang berbobot 50-60 kg dengan ditemani udara pagi yang dinginnnya menusuk kulit. Menurut penuturan beliau, saat masih muda ia pernah memanggul hingga 110 kg. Sungguh tangguh memang penambang belarang di sana, mengangkut beban sambil manapaki jalanan menanjak khas permukaan gunung.
Selama perjalanan, mereka harus antri berjalanan karena padatnya arus pendakian saat itu. Ada penambang belerang dan juga wisatawan yang kabarnya tak pernah sepi memadati kawah Ijen setiap minggunya. Setelah 2 jam perjalanan, mereka tiba di tempat penambangan. Baru saja tiba, mereka disambut dengan kobaran “Blue Fire” di tengah sana. Blue fire sendiri merupakan kreasi alam berupa api berwarna biru yang hanya ada dua di dunia yaitu di benua Amerika dan di Indonesia.  Fenomena langka ini selalu menjadi daya tarik wisatawan meskipun mereka harus bersinggungan dengan asap belerang.
Menjelang matahari terbit, danau berwarna biru kehijauan perlahan-lahan mulai terlihat di sekitar penambangan belerang. Keelokannya seakan menahan wisatawan untuk tidak cepat-cepat turun  karena kawah Ijen masih memiliki segudang keindahan yang ingin disuguhkan. Terlihat banyak wisatawan mancanegara  yang berfoto di sekitar danau maupun di sekitar dataran yang di bawahnya terhampar  hutan nan hijau di punggung Gunung Ijen. Adapula yang mencoba berkomunikasi dan berfoto bersama penambang belerang. Terlihat jelas bahwa itu bukan kali pertama bagi para wisatawan mancanegara mengunjungi kawah Ijen karena beberapa diantaranya terlihat akrab dengan penambang. Hingga perjalanan turun keempat peserta Dikjutpun wisatawan tiada hentinya berdatangan.Mengenai makanan, souvenir ataupun informasi tentang kawah Ijen dengan mudah didapatkan di Paltuding, yaitu pos di start pendakian Gunung Ijen.
Pendakian kali ini sangatlah berkesan bagi keempat anggota Wapeala tersebut karena merasa beruntung dapat menjadi salah satu pendaki yang yang berkesempatan mengunjungi “Surga di Ujung Jawa” tersebut. (W-648 Grr)
 
ploting jalur
jalur yang terjal, curam, dan butuh konsentrasi

puncak Gunung Raung 3332 mdpl

                                                                            blue fire

Site search

    Blogger news

    Blogroll


    About